TKS Distanakbunhut Bandarlampung Pertanyakan Uang Makan

BANDARLAMPUNG (LAMPUNGINSTA) – Ratusan tenaga tenaga kontrak sukarela (TKS) Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan, dan Kehutanan Kota Bandarlampung mempertanyakan uang makan yang mak jelas (MJ) pencairan dan pengelolaannya.

Pasalnya, terhitung sejak 1 Januari 2019 uang makan 107 TKS Distanakbunhut Bandarlampung tersebut diganti dengan nasi bungkus, itu pun hanya sampai bulan Maret.

“Hanya nasi bungkus yang dibagikan dari Januari-Maret, itu pun nasi bungkusnya dibuat sendiri oleh kadis,” ungkap salah satu TKS Distanakbuhut Bandarlampung.

Padahal menurut sumber TKS yang enggan disebutkan namanya tersebut, dana makan minum TKS sudah dicairkan sebesar Rp30 juta tahun ini. “Nasi bungkus dimasak dan dibagikan sendiri oleh bu kadis. Menu selalu nasi telor,” imbuhnya.

Selain itu, para TKS pertamanan dan tebang pohon tersebut tidak setiap hari mendapat nasi bungkus.

Dihubungi terpisah, Pengawas Lapangan Penebangan Pohon Distanakbunhut Sugondo menuturkan, bahwa selama tiga bulan Kepala Disnatanbunhut Agustini langsung yang mengirimkan nasi bungkus ke lapangan.

“Dengan alasan sambil mengawas yang kerja makannya langsung membawa nasi untuk yang kerja di lapangan, meskipun kami menebang pohon di serensem Bu kadis tetap mengantarkan jatah makan siang kami,” bebernya, ditemui ketika sedang melakukan penebangan pohon di Jl. Urip Sumoharjo, Selasa (13/8/2019).

Untuk tenaga pangkas pohon dijelaskannya, berjumlah 28 orang. Dan dia mengaku selalu mendapatkan nasi bungkus tiap kali bekerja melakukan  pemangkasan pohon.

Hanya saja dia membenarkan jika dua bulan lebih belakangan ini tidak lagi mendapat nasi bungkus. Ambil tiga bulan  sekali ini baru ngambil.

“Iya memang, dua bulan lebih kami tidak lagi mendapat nasi bungkus. Soal anggaran saya kurang tahu,” tandasnya.

Terkait permasalah ini, Kepala Distanakbunhut Kota Bandarlampung Agustini mengaku baru mencairkan satu kali uang makan TKS.

“Tahun ini baru sekali mencairkan uang makan TKS sekitar Rp10 jutaan. Karena anggaran terbatas kita buatkan nasi bungkus,” tuturnya.

Dia membenarkan belakangan uang makan terhenti karena besarannya relatif cukup kecil dan terbatas. Total dalam setahun hanya sekitar Rp50 jutaan.

“Untuk satu TKS hanya dijatah sekitar Rp7.000-12.000. Kecil memang,” kata dia. Termasuk juga terkendala bulan puasa. “Bulan puasa kan tidak boleh mengambil uang makan,” imbuhnya.(ton)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *